Minggu, 02 November 2014

Catatan Perjalanan Gunung Papandayan ala Pendaki Ceria





Melanjutkan catatan perjalanan sebelumnya, kali ini berkisah tentang perjalanan kami menyusuri keindahan alam Nusantara di kawasan Barat pulau Jawa tepatnya di daerah Garut, yaitu Gunung Papandayan yang berketinggian 2.665 mdpl.

Bertemakan dengan Trip Hore kami beranggotakan 32 orang peserta, dan yang menarik di Trip Hore ini diikuti oleh anak-anak kecil yang mana adalah anak-anak dari peserta yang juga disertakan dalam perjalanan kali ini. Setidaknya ada 6 anak kecil yang ikut rombongan kami mendaki ke Papandayan.

Trip kali ini sangat berbeda dengan trip-trip sebelumnya, karena pada trip kali ini terbilang luar biasa karena kami menyewa 3 bus Big Bird berukuran 10 seat sebagai alat transportasi menuju ke Gunung Papandayan dari tanggal 24-26 Oktober 2014. Biasanya sih kami ngeteng alias backpacker-an setiap melakukan trip hehe...

Kuitansi Big Bird :)
Berkumpul dari Kampung Rambutan tepatnya di rumah Om Wahyu, sekitar pukul 00.00 WIB kami baru meluncur menuju ke Garut, kebetulan bertepatan tanggal muda (abis gajian katanya sih) dan juga sabtunya libur nasional 1 Muharram maka betul saja kami mulai dari masuk tol JORR dalam kota sudah tersendat dan perjalanan kami yang harusnya di tempuh kurang lebih selama 4 -5 jam menjadi 10 jam perjalanan.

Sekitar pukul 8.30 WIB kami sampai di Garut kota dan kami pun berhenti sejenak untuk membeli perlengkapan logistik pendakian di pasar Garut, setelah selesai membeli logistik kami melanjutkan perjalanan menuju ke Cisurupan, yakni pintu masuk untuk menuju start awal pendakian yaitu Camp David.

Menuju Camp David
Tepat pukul 10.00 WIB akhirnya kami sampai di Camp David, disini kami mengurus perijinan pendakian dan persiapan pendakian. Untuk biaya perijinan satu orang dikenakan biaya Rp7.500,-.

Selesai mengurus perijinan, kami pun menyempatkan diri untuk makan siang dan juga packing ulang untuk barang bawaan yang akan kami bawa ke atas. Target kami saat itu dari camp David kami akan mendirikan tenda di Pondok Salada dan keesokan harinya baru melanjutkan ke Puncak Papandayan jika cuaca memungkinkan.

Jam menunjukkan pukul 11.00 WIB lebih beberapa menit di awali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Bang Ambon (Bang Gerry) lalu kami mulai melakukan trekking bersama dengan tujuan Pondok Salada dan kami pun tidak menargetkan waktu dikarenakan banyak anak-anak yang ikut dalam pendakian ini.

Trek Kawah Papandayan
Menyusuri kawah Papandayan trek awal dari Gunung Papandayan kami terus telusuri jalur walau terkadang berhenti sejenak untuk sekedar mencari nafas (oya di jalur kawah ini kita jangan terlalu lama berhenti dikarenakan bau belerang yang sangat menyengat yang dapat membuat kepala menjadi pusing apalagi yang belum gajian tambah pusing aja deh), setelah melewati jalur kawah, jalur yang ditemui lumayan landai dan melintasi sungai yang airnya lumayan segar untuk sekedar cuci muka.

Trekking
Setelah melintasi sungai, trek kembali menanjak dan menyusuri pinggiran tebing yang cukup landai serta jalur hutan hingga ke Pondok Salada (tempat kami mendirikan tenda). Kurang lebih 3 jam perjalanan akhirnya kami sampai di Pondok Salada yang merupakan tempat kami mendirikan tenda untuk bermalam.

camp Area at Pondok Salada
Usai sampai di Pondok Salada kami pun bergegas mencari lokasi untuk mendirikan tenda dan kami mendapatkan tempat di ujung dari Pondok Salada yang kebetulan pada hari itu sangat ramai sekali dengan pendaki-pendaki yang juga ngecamp disana. Cuaca sore itu sangat cerah dengan semilir angin yang terasa menyejukkan, satu persatu peserta datang dan kami pun langsung mendirikan tenda saling berdekatan.

Tenda pun berdiri satu persatu, kami pun mulai melakukan aktifitas masak memasak dan makan memakan perbekalan yang kami bawa dari bawah, selain itu ada juga yang melakukan aktifitas mengabadikan gambar dan lain-lain.

Masak dan makan bareng di Pondok Salada
Keesokan harinya, sekitar pukul 4.00 WIB kami satu persatu terjaga dari tidur untuk bergegas menuju ke puncak, namun karena cuaca mendung yang tidak memungkinkan akhirnya kami mengurungkan niat untuk menuju puncak tetapi kami akan melanjutkan perjalanan ke Tegal Alun.

Pukul 6.00 WIB cuaca kembali cerah dan kami memutuskan untuk menuju ke Tegal Alun dan danau di sekitaran Tegal Alun. Tapi sebelum menuju ke Tegal Alun, kami sempatkan diri untuk berfoto-foto keluarga dahulu di Hutan Mati (jalur sebelum menuju ke Tegal Alun). Di Hutan Mati ini, view untuk mengabadikan gambar terbilang cukup indah dengan pemandangan batang-batang pohon kering tanpa dedaunan dan tanah kapur menghiasi datarannya.

Bersiap Foto keluarga
at Hutan Mati
Usai puas berfoto-foto, perjalanan kembali dilanjutkan dengan trek yang menanjak dengan sebutan Tanjakan Mamang yang cukup menguras tenaga. Di jalur tanjakan Mamang, kita akan menemui jalur air yang bisa di ambil untuk perbekalan air. Lanjut, melewati tanjakan mamang, kami pun sampai di Tegal Alun dimana lokasi ini sangat luas bak landasan pacu pesawat terbang di hiasi oleh tumbuhan-tumbuhan nan cantik jelita.

At Tegal Alun
Puas menikmati pemandangan di sekitar Tegal Alun, kami pun bergegas kembali ke Pondok Salada untuk melakukan packing dan kembali ke Camp David untuk kemudian kembali ke Jakarta. Oya jalur turun kami untuk menuju ke Camp David adalah melintasi jalur Hutan Mati (sebenarnya jalur ini ditutup karena rawan longsor) yang lebih cepat dibandingkan jalur awal pendakian.

Jalur ini memang agak sedikit terjal dan licin, namun lebih menguras adrenalin karena terjalnya jalur. Ya lumayan untuk menguatkan jantung sih hehehee....

Siang sekitar pukul 14.00 WIB kami sampai di Camp David kembali dan kami bergegas turun ke Cisurupan untuk bersih-bersih dan makan di sekitaran masjid di Cisurupan dikarenakan di Camp David toilet hanya ada beberapa sedangkan pengunjung sangatlah banyak. Dan sekitar pukul 16.00 WIB kami pun pulang kembali ke Jakarta.

At Cisurupan sebelum pulang ke Jakarta
#SalamLestari #SalamSemesta
Jangan Tinggalkan apapun Selain Jejak...
Jangan Bunuh apapun Selain Waktu...
Jangan Ambil apapun selain Gambar...

Terima kasih sudah bersedia membaca blog Pendaki Liar, semoga berkenan dan apabila ada kata-kata yang tidak berkenan ataupun salah mohon koreksinya. :)

FOTO-FOTO LAIN:

Sore hari di Pondok Salada
Tegal Alun
Pendaki Dekil
Foto Keluarga
Danya dan Big Man
Model Majalah
Romantis itu Disini Bersamaku

Sarapan Pagi si kecil
Rinjani bermain di malam hari
Masak-masak
Pendaki Gendut
Chef dari Padang pun kami datangkan (baju biru dengan ikat kepala)
Chef dari Ambon (kiri) dan asistennya (bagian nyicip makanan)

Foto Keluarga (belum lengkap)
Vito (jaket hijau) said: Om gembel ya? 

Aihh matee

Happy Wedding Kak Budi
At Tegal Alun
Narsis itu Disini Bersama KAMI
Lagi Akur abang adek

Kumpul-kumpul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar