Minggu, 12 April 2015

Cerpen: Rosa

Jam di tanganku menunjukkan pukul 17.00, sudah satu cangkir kopi kuhabiskan dan ini kali kedua kopi yang kupesan selang hampir 1 jam di sebuah kafe di pusat kota. Sembari mengetik artikel dan memandangi hilir mudik orang-orang yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, maklum penulis yang sedang dikejar deadline jadi harus segera menyelesaikan artikel-artikel.

Oya.... Aku seorang penulis lepas di sebuah media terkemuka di kota ini, namaku Dion. Aku anak lelaki satu-satunya di keluargaku. Aku tipikal cowo humoris dengan gaya urakan bak gembel jalanan (kalau kata Ibuku) dengan gaya celana jeans belel, rambut gondrong dan tato di punggung dan lengan kananku.

Ditemani secangkir kopi untuk kali keduanya, dan sebatang rokok serta tak ketinggalan sebuah komputer jinjing (laptop) beserta bahan-bahan tulisan, aku asik bercengkrama dengan kesibukan menulis sembari sesekali menyeruput kopi dan menghisap rokok yang sudah terbakar setengah batang.

Selang beberapa menit, datang seseorang sambil menegur namaku. Awalnya tak tahu siapa, namun ketika melirik ke arah wajahnya, aku teringat akan senyum manis yang tersimpul di wajahnya. Yaaa..... Dia Rosa... Seorang gadis ayu yang pernah singgah dihatiku.... Dor..... Jantung dan darah seperti terasa mendarat turun kebumi setelah menengok dan melihat wajah ayu-nya. "Hai..... Dion kan?," ujar sang gadis. "Iyaa... kamu....... (mikir) hmmm... Rosa ya?," ujarku membalas sapaannya.
"Iya bener... Ya ampun akhirnya kita ketemu lagi ya... hehe," ucap Rosa sembari tertawa dan menjulurkan tangannya mengajak salaman.

Dan akhirnya dia pun ikut duduk di meja yang daritadi kutempati seorang diri, obrolan demi obrolan pun kami gulirkan. Oya... Rosa kebetulan datang ke kafe itupun sendiri jadi aku dan dia bisa leluasa ngobrol tanpa ada gangguan.. hahaa..

"Eh, kamu sering kesini?," tanyaku sambil mengangkat cangkir kopi yang tadi. "Hmm.. jarang sih, cuma tadi kebetulan pengen aja dan niatnya sambil nunggu macet jadi aku mampir kesini," jawabnya sembari tersenyum menatapku.

Hampir 1 jam kita mengobrol santai, dan akhirnya kita pun menyudahi pertemuan tak disengaja ini. "Ion, aku izin pulang duluan ya, kamu masih lama ya?," ujar Rosa dengan nada manjanya. "Hmm... aku sih udah selesai kerjaannya, kamu mau pulang?," balasku. "Iya... aku mau pulang, udah ga begitu macet kayanya jalanan deh," jawabnya kembali dengan nada manja yang menyesakkan hati.

Namanya lelaki ya aku pun mencoba bergaya layaknya seorang lelaki sejati jadi aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, "Mau pulang bareng ga? kebetulan aku bawa motor dan helm 2," tuturku. "Loh, kamu emang ga kemana-mana lagi?," ucapnya sembari memberikan raut muka heran.

"Ga kok, kalo mau bareng, ayo bareng aku aja.. Masa pulang sendirian kamu, ga tega akulah," tegasku sembari memasukkan laptop kedalam tas selempangku dan mematikan rokok ditangan.

Dan Rosa pun mengiyakan ajakanku untuk pulang bareng. Dan kita pun bergegas keluar dari kafe yang sudah kusinggahi hampir 2 jam itu menuju ke parkiran motor yang tak jauh dari kafe. "Sini aku bawain tasnya, kayanya berat banget," tuturku kepada Rosa sembari keluar dari pintu kafe bersama dan mencoba membantu membawakan tasnya. "Ga apa-apa kok udah biasa," ujarnya sambil memberikan senyum manis yang terakhir kali kulihat 5 tahun silam.

Oyaaa tertinggal... Rosa sekarang dan dulu tidak ada bedanya, hanya bedanya Rosa sekarang menggunakan jilbab dan menurutku lebih cantik. Weew.... Hatiku pun mulai tak karuan, dan sesekali aku pun salah tingkah di depannya maklum sudah hampir 5 tahun tidak bertemu sejak kita memutuskan hubungan sebagai sepasang kekasih.

Canda tawa pun mengiringi langkah kita menuju ke parkiran motor yang berada di sudut kafe, sampai di parkiran motor Rosa pun masih tak percaya akan aku antarkan. "Kamu yakin ga kemana mana lagi? Mau anterin aku pulang."

Dengan nada lembut dan sedikit tawa aku mengatakan "Iyaa yakin banget kok, emang kenapa?," sembari menyodorkan helm untuk dipakainya.

"Hmmm... gpp sih cuma aku kasihan aja sama kamu dan takut kamu ada janji," ucapnya. "Hehehe... tenang aja, aku udah ga ada janji kok, dan kita kan memang searah pulangnya," meyakininya. "Oyaaaudah kalo gitu," jawab Rosa sambil mengenakan helm yang aku berikan kepadanya.

Dan aku pun menstater motorku. Breng breng breng... motor butut pun menyala dan Rosa pun segera naik ke motor untuk kuantarkan pulang dengan motor hasil keringat dan usahaku selama ini hehe...


DenChito